"aku"

akulah pelamun pemuja malam
pejalan ragu
lorong-lorong suram

membilang kota demi kota
seperti angsa laut mencari matahari

akulah kabut yang menyelimuti laut
saat bintang-bintang ramai berceloteh
dan menara suar memandang iri
namun aku berdiam tuli

akulah halimun gunung
setia menggumuli pucuk-pucuk pinus
tanpa banyak kata, nyaris bisu
saksi syahwat lumut atas batu

akulah majnun yang ganar
meracau kata-kata yang kusebut sajak
serupa lengas di akar rerumputan
yang lesap saat pagi dilahirkan

akulah pecundang
yang mencoba tetap berhati besar itu...

Senin, 18 Februari 2013

"frost"


serentak kita akrabi batu-batu hitamnya yang angkuh
kelak dinding itu kaunamai sunyi
dan batu hitam itu sebagai malam
di manakah sebenar kaki kita pijakkan, kekasihku? katamu.
sementara kegamangan pada almanak tuhan membuat jantung kita berdebar lebih.
kukatakan sayang, kita akan berpijak di tempat kita berdiri
lalu kita setubuhi puisi, berselingkuh dengan jahanam sepi.
maka sebentar lagi kita tahu,
bukan candu yang kusuguhkan dalam cawan di hadapanmu,
hanya sajak yang telah kita kenali harumnya, seperti aroma kembang setaman yang telah kita akrabi baunya.
maka dengan kesadaran setengah, kita relakan kedua tangan
kita terbelenggu oleh pesonanya
maka di sinilah kita terdampar
di sebuah ranah yang asing namun seperti pernah kita kenal,
deja vu sebuah kamar sepimu begitu memar, sayang.
tetapi ingatlah tentang debar di dada kiri, dan juga mimpi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar