"aku"

akulah pelamun pemuja malam
pejalan ragu
lorong-lorong suram

membilang kota demi kota
seperti angsa laut mencari matahari

akulah kabut yang menyelimuti laut
saat bintang-bintang ramai berceloteh
dan menara suar memandang iri
namun aku berdiam tuli

akulah halimun gunung
setia menggumuli pucuk-pucuk pinus
tanpa banyak kata, nyaris bisu
saksi syahwat lumut atas batu

akulah majnun yang ganar
meracau kata-kata yang kusebut sajak
serupa lengas di akar rerumputan
yang lesap saat pagi dilahirkan

akulah pecundang
yang mencoba tetap berhati besar itu...

Minggu, 12 Desember 2010

"DuseA"

"DUSEA"
kutulis sajak ini saat purnama bulan jingga setelah perjalanan sekian lama,
memetakan garis-garis usia dalam kisah-kisah, dalam tawa, dalam air mata
seperti soneta yang tak usai, selalu berakhir dengan koma atau tanda tanya.

kutulis sajak ini saat purnama bulan jingga setelah lelah merajam dan mata setengah pejam oleh galau tak terkata,
oleh sesak dada oleh panas di pelupuk mata, inikah dendam atau hanya sepotong drama?

tiba-tiba
rasa asing ini mengetuk pintu seperti pilu, menyiangi seluruh senyum
menjadi seringai, tangisan tak jadiseperti rasa masygul yang aneh
membangunkanku dari mimpi gelisah
ada ruang kosong menjelma seperti bayangan tetapi hidup,
katamu,perjalanan adalah keberanian menentukan langkah kedua setelah pijakan dibuat.
setelah pijakan dibuat...
seperti camar laut, tak pernah mengeluh bila salju menyelimuti negeri utara.
rela terbang jauh, meski sayap bisa patah demi matahari di negeri laut
meski kau tahu hakikat perjalanan adalah mengerti makna pulang

kutulis sajak ini saat purnama bulan jingga
bukan, bukan untuk mengantar kepergian
bukan pula sebungkus bekal pengembaraan
karena jejak-jejak telah kau tandai agar kau tahu jalan kembali

kutulis
sajak ini saat purnama bulan jingga bukan, bukan untuk sebuah ucapan
selamat jalan karena kutahu itu akan terdengar menyedihkan,sedangkan
sebuah perjalanan,selalu layak untuk dirayakan
perayaan yang sama saat suatu ketika kau buka album kenangan lama dan kaurasakan udara,
serupa saat ini maka kau akan sadari perpisahan tak pernah sungguh terjadi

kutulis
sajak ini saat purnama bulan jingga dengan keriangan yang sama:tawa dan
air mata akan selalu adaagar kebahagiaan memperoleh maknanya dan
kepedihan hanyalah penegas arti

kutulis sajak ini dalam purnama bulan jingga inilah pestaku, pesta kita yang sesungguhnya karena sering kita terlupa
hidup
sesungguhnya seluas hati kita,namun kita lebih suka mengurungnya dalam
penjara,maka lepaslah seperti camar mencari matahari,seperti embun pagi
yang tak hendak terpenjara malam,seperti saat kau tinggalkan mimpi
dalam catatan harian agar kau lebih mengerti arti pulang,
dan setiap kali kaulihat kilasan setiap kenang kau akan tahu, kau tak akan pernah sesat jalan

kutulis sajak ini saat purnama bulan jingga
meski sesekali ada sesak di tenggorokan
atau debar nadi, getar jemari tetapi selarik senyuman selalu berhasil
mengakhiri setiap lagu sedih

kutulis sajak ini
saat purnama bulan jingga
"DUSEA"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar