"DUSEA"
kutulis sajak ini saat purnama bulan jingga setelah perjalanan sekian lama,
memetakan garis-garis usia dalam kisah-kisah, dalam tawa, dalam air mata
seperti soneta yang tak usai, selalu berakhir dengan koma atau tanda tanya.
kutulis sajak ini saat purnama bulan jingga setelah lelah merajam dan mata setengah pejam oleh galau tak terkata,
oleh sesak dada oleh panas di pelupuk mata, inikah dendam atau hanya sepotong drama?
tiba-tiba
rasa asing ini mengetuk pintu seperti pilu, menyiangi seluruh senyum
menjadi seringai, tangisan tak jadiseperti rasa masygul yang aneh
membangunkanku dari mimpi gelisah
ada ruang kosong menjelma seperti bayangan tetapi hidup,
katamu,perjalanan adalah keberanian menentukan langkah kedua setelah pijakan dibuat.
setelah pijakan dibuat...
seperti camar laut, tak pernah mengeluh bila salju menyelimuti negeri utara.
rela terbang jauh, meski sayap bisa patah demi matahari di negeri laut
meski kau tahu hakikat perjalanan adalah mengerti makna pulang
kutulis sajak ini saat purnama bulan jingga
bukan, bukan untuk mengantar kepergian
bukan pula sebungkus bekal pengembaraan
karena jejak-jejak telah kau tandai agar kau tahu jalan kembali
kutulis
sajak ini saat purnama bulan jingga bukan, bukan untuk sebuah ucapan
selamat jalan karena kutahu itu akan terdengar menyedihkan,sedangkan
sebuah perjalanan,selalu layak untuk dirayakan
perayaan yang sama saat suatu ketika kau buka album kenangan lama dan kaurasakan udara,
serupa saat ini maka kau akan sadari perpisahan tak pernah sungguh terjadi
kutulis
sajak ini saat purnama bulan jingga dengan keriangan yang sama:tawa dan
air mata akan selalu adaagar kebahagiaan memperoleh maknanya dan
kepedihan hanyalah penegas arti
kutulis sajak ini dalam purnama bulan jingga inilah pestaku, pesta kita yang sesungguhnya karena sering kita terlupa
hidup
sesungguhnya seluas hati kita,namun kita lebih suka mengurungnya dalam
penjara,maka lepaslah seperti camar mencari matahari,seperti embun pagi
yang tak hendak terpenjara malam,seperti saat kau tinggalkan mimpi
dalam catatan harian agar kau lebih mengerti arti pulang,
dan setiap kali kaulihat kilasan setiap kenang kau akan tahu, kau tak akan pernah sesat jalan
kutulis sajak ini saat purnama bulan jingga
meski sesekali ada sesak di tenggorokan
atau debar nadi, getar jemari tetapi selarik senyuman selalu berhasil
mengakhiri setiap lagu sedih
kutulis sajak ini
saat purnama bulan jingga
"DUSEA"
Bukan karena penakut atau rapuh. Ia hanya ingin menciptakan harapan dan impian dalam hidupnya sendiri. Hanya ingin melihat satu matahari saja dalam hatinya. Hanya itu. Bukan karena ingin melarikan diri atau sembunyi. Ia hanya berharap memiliki tempat rahasia , tempat ia menyimpan semua kenangan, hasrat, dan ambisinya. Hanya untuknya sendiri.
"aku"
akulah pelamun pemuja malam
pejalan ragu
lorong-lorong suram
membilang kota demi kota
seperti angsa laut mencari matahari
akulah kabut yang menyelimuti laut
saat bintang-bintang ramai berceloteh
dan menara suar memandang iri
namun aku berdiam tuli
akulah halimun gunung
setia menggumuli pucuk-pucuk pinus
tanpa banyak kata, nyaris bisu
saksi syahwat lumut atas batu
akulah majnun yang ganar
meracau kata-kata yang kusebut sajak
serupa lengas di akar rerumputan
yang lesap saat pagi dilahirkan
akulah pecundang
yang mencoba tetap berhati besar itu...
pejalan ragu
lorong-lorong suram
membilang kota demi kota
seperti angsa laut mencari matahari
akulah kabut yang menyelimuti laut
saat bintang-bintang ramai berceloteh
dan menara suar memandang iri
namun aku berdiam tuli
akulah halimun gunung
setia menggumuli pucuk-pucuk pinus
tanpa banyak kata, nyaris bisu
saksi syahwat lumut atas batu
akulah majnun yang ganar
meracau kata-kata yang kusebut sajak
serupa lengas di akar rerumputan
yang lesap saat pagi dilahirkan
akulah pecundang
yang mencoba tetap berhati besar itu...
Minggu, 12 Desember 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar